Feeds:
Posts
Comments

LOMBA PRODUK INOVATIF (CRAFT) 2010

A. BENTUK  KARYA PRODUK INOVATIF

Sekarang ini seni kriya memasuki perkembangan global. Dalam proses ini seni kriya  tidak bisa menghindar dari tanda-tanda budaya yang beragam karena globalisasi, dan  juga tidak bisa menghindar dari kondisi multi-kultural dunia. Wacana industri kreatif memberikan tantangan pada perkembangan seni kriya di Indonesia. Pewacanaan ini didasari keyakinan yang mempunyai pemahaman, penafsiran bahkan pandangan personal tentang seni kriya yang mampu memberikan inovasi-inovasi kreatif yang bermuara pada produk-produk budaya.

Produk Inovatif merupakan kegiatan berkarya seni  yang terkait dengan  usaha inovasi yang memberikan pembaharuan dan munculnya kreasi produk baru, proses baru, metode baru atau bahkan teknologi baru yang dapat memberikan warna baru dalam seni kriya (craft). Hasil karya yang diharapkan berfokus pada kreasi baru yang memiliki identitas  kepemilikan intelektual dan memberikan konstribusi pada lingkup industri kreatif sebagai kegiatan yang bersumber dari kreativitas, keahlian, dan talenta individu dan berpeluang meningkatkan usaha ekonomi produktif melalui penciptaan karya seni kriya.

B.  BAHAN/MEDIA

      a. Kayu,                           d. Kulit

      b. Tekstil,                        e. Logam

       c. Tanah/Keramik,      f. Media Campuran.

C.  PESERTA

  1. Terbuka untuk seluruh Guru Seni Budaya di semua tingkat pendidikan (SD/MI,SMP/MTs,SMA/MA,SMK/MAK) di seluruh Indonesia
  2. Widyaiswara LPMP  yang mengampu Mata Diklat Seni Budaya
  3. Kepala Sekolah di semua tingkat pendidikan, (SD/MI,SMP/MTs,SMA/MA,SMK/MAK) di Seluruh Indonesia

D.   KETENTUAN LOMBA

  1. Karya yang disertakan diyakini orisinal, Ukuran minimal : 40 x 30 c x 60 cm Maksimal : 150  x  200 cm. (Panjang x Lebar x Tinggi)
  2. Setiap perserta hanya boleh menyertakan  (2) dua karya. Yang dipilih hanya (1) satu karya
  3. Karya yang disertakan tidak pernah diajukan mengikuti kompetisi di mana pun.
  4. Karya yang disertakan harus karya baru yang dibuat tahun 2009 dan 2010.
  5. Karya yang disertakan dilengkapi Diskripsi  (maksimal) 400 kata (1 halaman kuarto) dan Gambar Desainnya. Tulisan bisa berupa konsep penjelasan karya atau penjelasan gagasan, Tulisan bisa dilengkapi dengan portofolio.
  6. Setiap karya harus diberi lampiran berupa keterangan karya dengan jelas, judul, ukuran, media, tahun serta berat karya. Peserta wajib mencantumkan nama, alamat tinggal , alamat  sekolah, nomor telpon/HP,  dan alamat email dengan jelas.
  7. Karya dikirim paling lambat tanggal 15 Juli 2010.
  8. 50 karya Nominator akan dipamerkan pada tanggal 02 Agustus s/d 06 Agustus 2010 dalam rangka Festival Seni Internasional III tahun 2010.
  9. Pemenang 5 karya terbaik akan mendapat hadiah @ Rp.10.000.000,- + Trophy dan Sertifikat
  10. Pengumuman pemenang dilakukan pada saat penutupan Festival Seni Internasional tanggal 06 Agustus 2010. 
  11. Hal-hal yang kurang jelas dapat menghubungi kontak person Lomba      Produk Inovatif.
  12. 5 (lima) karya terbaik menjadi milik panitia.

E. DEWAN JURI  
      Akademis, Kurator/Pengamat Seni dan DU/DI

F.  SEKRETARIAT LOMBA:

      Panitia Lomba Produk Inovatif.

      Alamat PPPPTK Seni dan Budaya Sleman Yogyakarta,

      Jalan Kaliurang Km 12,5 Klidon Ngaglik Sleman,

      Yogyakarta – 55581.

 

GKONTAK PERSON

       1.  Dwi Yunanto, M.Pd         ( 08157961368)

       2.  Rahmat Sulistya,M.Si       ( 085648746273)

       3.  Drs. Muji Rahayu, M.Ds   ( 081392074531).

UNIT TRANSFUSI DARAH DAN DONOR DARAH

Oleh : Dwi Yunanto, M.Pd

  1. UMUM

Palang Merah Indonesia mendapat tugas khusus dari Pemerintah Republik Indonesia untuk menyelenggarakan UKTD (Upaya Kesehatan Transfusi Darah). Sebelumnya dikenal dengan istilah PUTD (Pelayanan Usaha Transfusi Darah), dengan batas dan wewenang yang diatur di dalam Undang-Undang No. 23 tahun 1992 Peraturan Pemerintah No. 18/tahun 1980, serta penjabarannya yaitu PERMENKES No. 478/tahun 1990 dan JUKLAK DIRJEN YAMMED No. 1147/tahun 1991.

Tugas ini dilaksanakan secara tersendiri, otonom dengan bimbingan, pengawasan dan pembinaan, baik oleh jajaran Kepengurusan PMI maupun jajaran Departemen Kesehatan. Sesuai dengan peraturan-peraturan tersebut diatas, kegiatan PMI dalam menyelenggarakan pengadaan darah adalah dengan cara :

–          Pemilihan (seleksi) penyumbang darah.

–          Penyadapan darah

–          Pengamanan darah

–          Penyimpanan darah

–          Penyampaian darah

Sedangkan dari segi moral dan etika, pengadaan darah dilakukan atas dasar “sukarela” tanpa maksud mencari keuntungan maupun menjadikan darah obyek jual beli. Hasil kegiatan UKTD PMI adalah darah yang sehat, aman dan tersedia tepat waktu. Disamping itu darah dapat diolah menjadi komponen-komponen darah yang dapat diberikan kepada pasien dengan tepat waktu sesuai kebutuhan. Darah tidak boleh diperjualbelikan dengan dalih apapun juga, karena darah diberikan oleh donor dengan sukarela.

DDS (Donor Darah Sukarela) adalah donor darah yang memberikan darahnya dengan sukarela tanpa melihat sendiri atau mengetahui kepada siapa darah itu akan diberikan.

DDP (Donor Darah Pengganti) adalah donor darah yang darahnya diberikan untuk menolong saudaranya atau temannya yang sakit, yang memerlukan darah. Secara historis, atas dasar kemanusiaan dan kedermawanan, sejak tahun 1950 PMI sudah mulai melakukan kegiatan pengelolaan sumbangan darah. Namun barulah tahun 1980, diterbitkan Peraturan Pemerintah No. 18 tahun 1980, yang menugaskan PMI untuk menyelenggarakan transfusi darah, termasuk hubungan kerja antara PMI dengan Departemen Kesehatan.

Dalam tahun 1992, oleh pemerintah telah dikeluarkan Undang-Undang No. 23 tahun 1992 di mana Pelayanan Usaha Transfusi Darah telah diatur didalamnya. Inilah landasan Hukum bagi penyelenggaraan UKTD (Upaya Kesehatan Transfusi Darah). Disamping prasarana tersebut, masalah kedermawanan darah di Indonesia mempunyai  infra struktur yang kokoh, yaitu “PANCA SILA” sebagai falsafah bangsa Indonesia, sehingga usaha transfusi darah di Indonesia harus dilakukan berdasarkan perikemanusiaan dan kesukarelaan.

Prasarana lain yang cukup besar artinya adalah fakta soal pemindahan darah antar manusia yang bersumber dari kalangan umat Islam di Indonesia yang menyatakan bahwa Usaha Transfusi Darah dapat dibenarkan.

  1. UNIT  TRANSFUSI  DARAH (UTD)

Di seluruh Indonesia terdapat secara resmi 188 UTD yang dikelola PMI dan 34 UTD rumah sakit (non-PMI).Yang ideal adalah jika disetiap

Kabupaten/Kodya/Kotif terdapat sebuah Unit Tranfusi Darah. Di Indonesia terdapat 316 Kabupaten/Kodya/Kotif. Terlihat disini bahwa masih banyak Kabupaten / Kodya / Kotif yang belum memiliki UTD, terutama di luar Jawa.Daerah yang telah memiliki rumah sakit, sudah pasti sedikit atau banyak memerlukan darah sebagai pengobatan/sarana pengobatan, namun pembentukan UTD di daerah tidak dapat dipaksakan begitu saja dari atas, tetapi harus dari bawah ke atas dan ada persyaratan yang perlu dipenuhi antara lain :

  1. Adanya kebutuhan darah minimal 100 kantong darah sebulan.
  2. Adanya penyumbang darah minimal 300 orang.
  3. Memiliki fasilitas bangunan dengan ruang yang diperlukan.
  4. Mempunyai peralatan dan perbekalan yang diperlukan.
  5. Tersedia tenaga yang diperlukan antara lain dokter sebagai Kepala, Asisten transfuse darah, Tata Usaha, dan sebagainya.
  6. Mendapat persetujuan dari pengurus Pusat PMI
  7. Izin operasional dikeluarkan oleh DINKES setempat.

Bagi suatu daerah yang PMI – nya belum memiliki UTD, maka penyediaan darah untuk tranfusi darah dapat langsung  dilakukan oleh Rumah Sakit setempat. Apabila PMI telah sanggup untuk membentuk UTD, maka penyelenggaraan UKTD oleh PMI (dilaksanakan oleh PMI).

Didalam menyelenggarakan UKTD, UTD melaksanakannya dengan prinsip mandiri, otonom dan mengurus rumah tangganya sendiri.

Peranan Pengurus PMI dalam hal ini antara lain adalah :

–          Memberikan pembinaan dan pengawasan kepada UTD.

–          Memberikan bantuan dana / financial.

–          Mengusahakan bantuan dari sumber lain.

–          Mengesahkan program kerja dan program anggaran UTD.

–          Meneliti laporan UTD, termasuk laporan keuangan.

  1. Logistik

Selain logistik perkantoran pada umumnya, logistik khusus untuk UKTD terbagi menjadi 2 yaitu :

  1. Alat-alat UKTD, yaitu alat-alat teknik yang dipakai untuk melaksanakan kegiatan UTD, antara lain :

–       Timbangan badan, stetoskop, tensimeter, alat periksa hemoglobin, alat periksa golongan darah.

–       Bank darah / lemari penyimpan darah, incubator, waterbath, mokroskop centrifuge, dan sebagainya.

  1. Ketenagaan :

Tenaga inti dalam UTD adalah :

  1. Dokter sebagai kepala UTD
  2. Asisten Transfusi Darah (ATD), sebagai tulang punggung pelaksanaan UKTD.

Untuk UTD standart (UTD Cabang), diperlukan tenaga :

–       Dokter        :  1 orang, sebagai Kepala UTD Cabang

–       ATD           :  2 orang, sebagai Kepala UTD Cabang

–       Tata Usaha :  1 orang

–       Bendahara : 1 orang

–       Pekarya      :  1 orang

–       Sopir          :  1 orang

Tenaga tersebut diusahakan sendiri oleh pengurus cabang PMI yang bersangkutan. Tenaga tersebut dapat diperoleh dari PEMDA / KANDEPKES setempat dengan status dipekerjakan atau diperbantukan, bagi tenaga yang menjadi karyawan PMI sendiri penggajian disesuaikan dengan peraturan Gaji pegawai Negeri Sipil (PGPNS).

  1. Donor Darah

Donor Darah memegang peranan penting dalam UKTD, tanpa donor darah, UKTD tidak mungkin berjalan.

Sesuai dengan PP 18/80, PMI memberi sekedar penghargaan kepada para Donor Darah Sukarela yang telah beberapa kali menyumbangkan darahnya dengan sukarela.

5        x   menyumbang, diberi piagam dengan pin plastic

15      x   menyumbang, diberi piagam dengan pin perunggu

30      x   menyumbang, diberi piagam dengan pin perak

50      x   menyumbang, diberi piagam dengan pin sepuh emas

75      x   menyumbang, diberi piagam dengan pin emas, dan kesempatan bersilaturahmi dengan Bapak Presiden di Jakarta.

100    x   menyumbang, oleh Departemen Sosial RI diberikan penghargaan berupa piagam dan “Satya Lencana Kebaktian Sosial” di Jakarta.

  1. PERHIMPUNAN DONOR DARAH INDONESIA (PDDI)

Donor Darah perlu dibina agar berkelanjutan.

Dengan adanya organisasi PDDI, PMI sangat terbantu dalam hal pembinaan Donor Darah Sukarela yang berkelanjutan. PDDI dengan PMI adalah mitra kerja yang masing-masing tergoranisasi secara terpisah dan mandiri. Di dalam kampanye menyebar (recruitmen) Donor Darah Sukarela, diusahakan untuk tidak ada tumpang tindih kegiatan-kegiatan yang merugikan, bahkan perlu dijalin kerjasama yang erat serta penggunaan dana yang efisien. Penyerahan Donor Darah Sukarela dapat dijalankan secara terpadu maupun sendiri-sendiri. PDDI dan PMI saling mengembangkan pemberian bantuan dalam bentuk saling menunjang, sesuai dengan kemampuan namun tidak saling mengikat.

  1. Pendanaan

Dalam pembentukan dan pengoperasian UTD dipakai prinsip “Kemandirian” atau “Otonomi”. Lalu dari mana diperolehnya biaya?

Untuk modal pertama diperoleh dari sumbangan Pemerintah Daerah, Departemen Kesehatan, PMI dan para dermawan lain.

Untuk biaya operasional, selain diperoleh dari sumber diatas, terutama diperoleh dari :

  1. PC PMI yang bersangkutan, yaitu 20% dari Bulan Dana.
  2. Hasil pengumpulan dari biaya layanan (service cost).
  3. Sumber lain yang sah.

Darah tidak boleh diperjual belikan dengan dalih apapun, tetapi untuk mendapatkan darah yang siap pakai diperlukan pengelolaan darah yang membutuhkan biaya. Biaya inilah yang disebut Biaya Pengelolaan Darah atau Service Cost, yaitu biaya yang dibebankan kepada pasien untuk mengganti biaya pengelolaan darah. Di dalam menentukan biaya pengelolaan darah tidak boleh ada unsure mencari keuntungan dan penetapan besarnya biaya tersebut diberikan oleh Dinas Kesehatan setempat.

  1. Pengeloaan keuangan UTD

Pengelolaan keuangan UTD sendiri oleh UTD. Keuangan UTD dikelola terpisah dari PC PMI yang terkait. Uang UTD hanya dipergunakan untuk UTD. Uang TD tidak boleh dipergunakan di luar kebutuhan UTD.

Pembukuan keuangan UTD dilaksanakan dengan rapi.

Sumber keuangan UTD : a.  Bantuan dari Pemda

  1. Bantuan PC PMI dati bulan dana
  2. Perolehan dari biaya pengolahan darah
  3. Perolehan dari hasil pemeriksaan golongan darah, dan sebagainya.
  4. Sumber lain yang sah.
  1. Pos pengeluaran keuangan UTD
    1. Belanja pegawai
    2. Belanja barang
    3. Belanja penerimaan
    4. Kegiatan program / operasional
    5. Lain-lain
  1. PERANAN DEPARTEMEN, ORGANISASI / BADAN LAIN DAN MASYARAKAT

Peranan jajaran Departemen Kesehatan dalam UKTD sangat besar, selain perizinan rekomendasi serta ketetapan yang diperlukan bagi UTDC, DEPKES akan memberikan juga subsidi mengeni alat peralatan, bekal habis pakai, fasilitas-fasilitas tenaga medic dan para medic serta dana untuk peningkatan keterampilan. Disamping itu Depkes melakukan juga pembinaan dan supervise kepada UTDC / PMI dan Rumah Sakit / Dokter dari Depkes, diperlukan kerjasama yang erat dan serasi antara petugas UTDC dengan petugas RS / Dokter.

Di samping itu peran organisasi-organisasi kemasyarakatan serta kelompok yang lain sangat penting didalam mendukung pelaksanaan UKTD, khususnya dalam hal sumbangan darah yang pada umumnya dilakukan pada acara-acara HUT (Hari Ulang Tahun). Dalam kenyataan, banyak juga kelompok masyarakat yang menyumbangkan darah secara teratur, baik mereka datang sendiri ke UTD Cabang, maupun mereka yang didatangi oleh mobil Unit dan UTD Cabang PMI.

Referensi : Memperkenalkan PMI

Mabes PMI tahun 1993

STRATEGI PEMBELAJARAN

STRATEGI PEMBELAJARAN

Oleh:

Dwi Yunanto, M.Pd

Widyaiswara PPPPTK Seni dan Budaya

Yogyakarta

Disampaikan pada Diklat Keterampilan dan Manajemen SMK Model

Tanggal 16 s.d 21 November 2009

  1. Pendahuluan

Dalam mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi, E. Mulyasa (2003) mengetengahkan lima model pembelajaran yang dianggap sesuai dengan tuntutan Kurikukum Berbasis Kompetensi; yaitu : (1) Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning); (2) Bermain Peran (Role Playing); (3) Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning); (4) Belajar Tuntas (Mastery Learning); dan (5) Pembelajaran dengan Modul (Modular Instruction). Sementara itu, Gulo (2005) memandang pentingnya strategi pembelajaran inkuiri (inquiry).

Di bawah ini akan diuraikan secara singkat dari masing-masing model pembelajaran tersebut.

A. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning)

Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning) atau biasa disingkat CTL merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan nyata, sehingga peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pembelajaran kontekstual, tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik, dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai. Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hapalan, tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik belajar.

Dengan mengutip pemikiran Zahorik, E. Mulyasa (2003) mengemukakan lima elemen yang harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual, yaitu :

  1. Pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik
  2. Pembelajaran dimulai dari keseluruhan (global) menuju bagian-bagiannya secara khusus (dari umum ke khusus)
  3. Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman, dengan cara: (a) menyusun konsep sementara; (b) melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan dari orang lain; dan (c) merevisi dan mengembangkan konsep.
  4. Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktekan secara langsung apa-apa yang dipelajari.
  5. Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari.

B. Bermain Peran (Role Playing)

Bermain peran merupakan salah satu model pembelajaran yang diarahkan pada upaya pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia (interpersonal relationship), terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik.

Pengalaman belajar yang diperoleh dari metode ini meliputi, kemampuan kerjasama, komunikatif, dan menginterprestasikan suatu kejadian

Melalui bermain peran, peserta didik mencoba mengeksplorasi hubungan-hubungan antarmanusia dengan cara memperagakan dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama para peserta didik dapat mengeksplorasi parasaan-perasaan, sikap-sikap, nilai-nilai, dan berbagai strategi pemecahan masalah.

Dengan mengutip dari Shaftel dan Shaftel, E. Mulyasa (2003) mengemukakan tahapan pembelajaran bermain peran meliputi : (1) menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik; (2) memilih peran; (3) menyusun tahap-tahap peran; (4) menyiapkan pengamat; (5) menyiapkan pengamat; (6) tahap pemeranan; (7) diskusi dan evaluasi tahap diskusi dan evaluasi tahap I ; (8) pemeranan ulang; dan (9) diskusi dan evaluasi tahap II; dan (10) membagi pengalaman dan pengambilan keputusan.

C. Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning)

Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning) merupakan model pembelajaran dengan melibatkan peserta didik secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Dengan meminjam pemikiran Knowles, (E.Mulyasa,2003) menyebutkan indikator pembelajaran partsipatif, yaitu : (1) adanya keterlibatan emosional dan mental peserta didik; (2) adanya kesediaan peserta didik untuk memberikan kontribusi dalam pencapaian tujuan; (3) dalam kegiatan belajar terdapat hal yang menguntungkan peserta didik.

Pengembangan pembelajaran partisipatif dilakukan dengan prosedur berikut:

  1. Menciptakan suasana yang mendorong peserta didik siap belajar.
  2. Membantu peserta didik menyusun kelompok, agar siap belajar dan membelajarkan
  3. Membantu peserta didik untuk mendiagnosis dan menemukan kebutuhan belajarnya.
  4. Membantu peserta didik menyusun tujuan belajar.
  5. Membantu peserta didik merancang pola-pola pengalaman belajar.
  6. Membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar.
  7. Membantu peserta didik melakukan evaluasi diri terhadap proses dan hasil belajar.

D. Belajar Tuntas (Mastery Learning)

Belajar tuntas berasumsi bahwa di dalam kondisi yang tepat semua peserta didik mampu belajar dengan baik, dan memperoleh hasil yang maksimal terhadap seluruh materi yang dipelajari. Agar semua peserta didik memperoleh hasil belajar secara maksimal, pembelajaran harus dilaksanakan dengan sistematis. Kesistematisan akan tercermin dari strategi pembelajaran yang dilaksanakan, terutama dalam mengorganisir tujuan dan bahan belajar, melaksanakan evaluasi dan memberikan bimbingan terhadap peserta didik yang gagal mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan pembelajaran harus diorganisir secara spesifik untuk memudahkan pengecekan hasil belajar, bahan perlu dijabarkan menjadi satuan-satuan belajar tertentu,dan penguasaan bahan yang lengkap untuk semua tujuan setiap satuan belajar dituntut dari para peserta didik sebelum proses belajar melangkah pada tahap berikutnya. Evaluasi yang dilaksanakan setelah para peserta didik menyelesaikan suatu kegiatan belajar tertentu merupakan dasar untuk memperoleh balikan (feedback). Tujuan utama evaluasi adalah memperoleh informasi tentang pencapaian tujuan dan penguasaan bahan oleh peserta didik. Hasil evaluasi digunakan untuk menentukan dimana dan dalam hal apa para peserta didik perlu memperoleh bimbingan dalam mencapai tujuan, sehinga seluruh peserta didik dapat mencapai tujuan ,dan menguasai bahan belajar secara maksimal (belajar tuntas).

Strategi belajar tuntas dapat dibedakan dari pengajaran non belajar tuntas dalam hal berikut : (1) pelaksanaan tes secara teratur untuk memperoleh balikan terhadap bahan yang diajarkan sebagai alat untuk mendiagnosa kemajuan (diagnostic progress test); (2) peserta didik baru dapat melangkah pada pelajaran berikutnya setelah ia benar-benar menguasai bahan pelajaran sebelumnya sesuai dengan patokan yang ditentukan; dan (3) pelayanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik yang gagal mencapai taraf penguasaan penuh, melalui pengajaran remedial (pengajaran korektif).

Strategi belajar tuntas dikembangkan oleh Bloom, meliputi tiga bagian, yaitu: (1) mengidentifikasi pra-kondisi; (2) mengembangkan prosedur operasional dan hasil belajar; dan (3c) implementasi dalam pembelajaran klasikal dengan memberikan “bumbu” untuk menyesuaikan dengan kemampuan individual, yang meliputi : (1) corrective technique yaitu semacam pengajaran remedial, yang dilakukan memberikan pengajaran terhadap tujuan yang gagal dicapai peserta didik, dengan prosedur dan metode yang berbeda dari sebelumnya; dan (2) memberikan tambahan waktu kepada peserta didik yang membutuhkan (sebelum menguasai bahan secara tuntas).

Di samping implementasi dalam pembelajaran secara klasikal, belajar tuntas banyak diimplementasikan dalam pembelajaran individual. Sistem belajar tuntas mencapai hasil yang optimal ketika ditunjang oleh sejumlah media, baik hardware maupun software, termasuk penggunaan komputer (internet) untuk mengefektifkan proses belajar.

E. Pembelajaran dengan Modul (Modular Instruction)

Modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis, operasional dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai dengan pedoman penggunaannya untuk para guru.

Pembelajaran dengan sistem modul memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Setiap modul harus memberikan informasi dan petunjuk pelaksanaan yang jelas tentang apa yang harus dilakukan oleh peserta didik, bagaimana melakukan, dan sumber belajar apa yang harus digunakan.
  2. Modul meripakan pembelajaran individual, sehingga mengupayakan untuk melibatkan sebanyak mungkin karakteristik peserta didik. Dalam setiap modul harus : (1) memungkinkan peserta didik mengalami kemajuan belajar sesuai dengan kemampuannya; (2) memungkinkan peserta didik mengukur kemajuan belajar yang telah diperoleh; dan (3) memfokuskan peserta didik pada tujuan pembelajaran yang spesifik dan dapat diukur.
  3. Pengalaman belajar dalam modul disediakan untuk membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran seefektif dan seefisien mungkin, serta memungkinkan peserta didik untuk melakukan pembelajaran secara aktif, tidak sekedar membaca dan mendengar tapi lebih dari itu, modul memberikan kesempatan untuk bermain peran (role playing), simulasi dan berdiskusi.
  4. Materi pembelajaran disajikan secara logis dan sistematis, sehingga peserta didik dapat menngetahui kapan dia memulai dan mengakhiri suatu modul, serta tidak menimbulkan pertanyaaan mengenai apa yang harus dilakukan atau dipelajari.
  5. Setiap modul memiliki mekanisme untuk mengukur pencapaian tujuan belajar peserta didik, terutama untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik dalam mencapai ketuntasan belajar.

Pada umumnya pembelajaran dengan sistem modul akan melibatkan beberapa komponen, diantaranya : (1) lembar kegiatan peserta didik; (2) lembar kerja; (3) kunci lembar kerja; (4) lembar soal; (5) lembar jawaban dan (6) kunci jawaban.

Komponen-komponen tersebut dikemas dalam format modul, sebagai berikut:

  1. Pendahuluan; yang berisi deskripsi umum, seperti materi yang disajikan, pengetahuan, keterampilan dan sikap yang akan dicapai setelah belajar, termasuk kemampuan awal yang harus dimiliki untuk mempelajari modul tersebut.
  2. Tujuan Pembelajaran; berisi tujuan pembelajaran khusus yang harus dicapai peserta didik, setelah mempelajari modul. Dalam bagian ini dimuat pula tujuan terminal dan tujuan akhir, serta kondisi untuk mencapai tujuan.
  3. Tes Awal; yang digunakan untuk menetapkan posisi peserta didik dan mengetahui kemampuan awalnya, untuk menentukan darimana ia harus memulai belajar, dan apakah perlu untuk mempelajari atau tidak modul tersebut.
  4. Pengalaman Belajar; yang berisi rincian materi untuk setiap tujuan pembelajaran khusus, diikuti dengan penilaian formatif sebagai balikan bagi peserta didik tentang tujuan belajar yang dicapainya.
  5. Sumber Belajar; berisi tentang sumber-sumber belajar yang dapat ditelusuri dan digunakan oleh peserta didik.
  6. Tes Akhir; instrumen yang digunakan dalam tes akhir sama dengan yang digunakan pada tes awal, hanya lebih difokuskan pada tujuan terminal setiap modul

Tugas utama guru dalam pembelajaran sistem modul adalah mengorganisasikan dan mengatur proses belajar, antara lain : (1) menyiapkan situasi pembelajaran yang kondusif; (2) membantu peserta didik yang mengalami kesulitan dalam memahami isi modul atau pelaksanaan tugas; (3) melaksanakan penelitian terhadap setiap peserta didik.

F. Pembelajaran Inkuiri

Pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.

Joyce (Gulo, 2005) mengemukakan kondisi-kondisi umum yang merupakan syarat bagi timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa, yaitu : (1) aspek sosial di dalam kelas dan suasana bebas-terbuka dan permisif yang mengundang siswa berdiskusi; (2) berfokus pada hipotesis yang perlu diuji kebenarannya; dan (3) penggunaan fakta sebagai evidensi dan di dalam proses pembelajaran dibicarakan validitas dan reliabilitas tentang fakta, sebagaimana lazimnya dalam pengujian hipotesis,

Proses inkuiri dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:

  1. Merumuskan masalah; kemampuan yang dituntut adalah : (a) kesadaran terhadap masalah; (b) melihat pentingnya masalah dan (c) merumuskan masalah.
  2. Mengembangkan hipotesis; kemampuan yang dituntut dalam mengembangkan hipotesis ini adalah : (a) menguji dan menggolongkan data yang dapat diperoleh; (b) melihat dan merumuskan hubungan yang ada secara logis; dan merumuskan hipotesis.
  3. Menguji jawaban tentatif; kemampuan yang dituntut adalah : (a) merakit peristiwa, terdiri dari : mengidentifikasi peristiwa yang dibutuhkan, mengumpulkan data, dan mengevaluasi data; (b) menyusun data, terdiri dari : mentranslasikan data, menginterpretasikan data dan mengkasifikasikan data.; (c) analisis data, terdiri dari : melihat hubungan, mencatat persamaan dan perbedaan, dan mengidentifikasikan trend, sekuensi, dan keteraturan.
  4. Menarik kesimpulan; kemampuan yang dituntut adalah: (a) mencari pola dan makna hubungan; dan (b) merumuskan kesimpulan
  5. Menerapkan kesimpulan dan generalisasi

Guru dalam mengembangkan sikap inkuiri di kelas mempunyai peranan sebagai konselor, konsultan, teman yang kritis dan fasilitator. Ia harus dapat membimbing dan merefleksikan pengalaman kelompok, serta memberi kemudahan bagi kerja kelompok.

  1. Strategi Pengelolaan Pembelajaran

Strategi pengelolaan pembelajaran merupakan komponen variabel metode yang berurusan dengan bagaimana menata interaksi antara pembelajar dengan variabel metode pembelajaran lainnya. Strategi ini berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang strategi pengorganisasian dan strategi penyampaian mana yang digunakan selama proses pembelajaran. Paling tidak, ada 3 pembuatan catatan kemajuan belajar siswa, dan motivasi.

Beberapa istilah yang hampir sama dengan strategi yaitu metode, pendekatan, teknik atau taktik dalam pembelajaran.

1. Metode

Metode merupakan upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Strategi menunjuk pada sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu, sedangkan metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi. Dengan demikian suatu strategi dapat dilaksanakan dengan berbagai metode.

2. Pendekatan (Approach)

Pendekatan (approach) merupakan titik tolak atau sudut pandang kitaterhadap proses pembelajaran. Strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dapat bersumber atau tergantung dari pendekatan tertentu. Roy Killen(1998) misalnya, mencatat ada dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitupendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centred approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centred approaches). Pendekatanyang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. Sedangkan, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri serta strategi pembelajaran induktif.

3. Teknik

Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode. Misalnya, cara yang harus dilakukan agar metode ceramah berjalan efektif dan efisien. Dengandemikian, sebelum seseorang melakukan proses ceramah sebaiknya memperhatikan kondisi dan situasi. Misalnya, berceramah pada siang hari setelah makan siang dengan jumlah

siswa yang banyak tentu saja akan berbeda jika ceramah itu dilakukan pada pagi hari dengan jumlah siswa yang terbatas.

4. Taktik

Taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu. Taktik sifatnya lebih individual, walaupun dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah dalam situasi dan kondisi yang sama,sudah pasti mereka akan melakukannya secara berbeda, misalnya dalam taktik menggunakan ilustrasi atau menggunakan gaya bahasa agar materi yang

disampaikan mudah dipahami.Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa suatu strategi pembelajaran yang diterapkan guru akan tergantung pada pendekatan yang digunakan,

sedangkan bagaimana menjalankan strategi itu dapat ditetapkan berbagai metode pembelajaran. Dalam upaya menjalankan metode pembelajaran guru dapat menentukan teknik yang dianggapnya relevan dengan metode, dan penggunaan teknik itu setiap guru memiliki taktik yang mungkin berbeda antara guru yang satu dengan yang lain.

  1. III. METODE PEMBELAJARAN

Seperti telah dikemukakan di muka, metode pembelajaran merupahkan cara melakukan atau menyajikan, menguraikan, memberi contoh, dan memberi latihan isi pembelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Berikut ini akan diutarakan berbagai metode pembelajaran yang memungkinkan diterapkan didalam kelas, masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Dibawah ni akan digambarkan sinkronisasi anatara metode dengan kemampuan yang akan dicapai berdasarkan indikator yang disepakati antara guru dan siswa. Diharapkan nantinya guru, pelatih, dan instruktur dapat memilih metode apa yang paling tepat dengan mempertimbangkan jumlah siswa, alat,fasilitas, biaya dan waktu.

NO METODE KEMAMPUAN YANG AKAN DICAPAI

BERDASARKAN INDIKATOR

1 Ceramah Menjelaskan konsep/prinsip/prosedur.
2 Demontrasi Menjelaskan sesuatu keterampilan berdasarkan standar prosedur tertentu.
3 Tanya jawab Mendapatkan umpan balik/partisipasi/menganalisis.
4 Penampilan Melakukan suatu keterampilan.
5 Diskusi Menganalisis/memecahkan masalah.
6 Studi mandiri Menjelaskan/menerapkan/menganalisis/mensintesis/mengevaluasi/melakukan sesuatu hal bersifat kognitif & psikomotorik.
7 Kegiatan Pembelajaran Terprogram Menjelaskan konsep/prinsip/prosedur.
8 Latihan bersama teman Melakukan sesuatu keterampilan.
9 Simulasi Menjelaskan/menerapkan/menganalisis suatu konsep dan prinsip
10 Pemecahan masalah Menjelaskan/menerapkan/menganalisis suatu konsep dan prinsip tertentu.
11 Studi kasus Menganalisis dan memecahkan masalah.
12 Insiden Menganalisis dan memecahkan masalah.
13 Pratikum Melakukan suatu keterampilan.
14 Proyek Melakukan sesuatu/menyusun suatu laporan.
15 Bermain peran Menerapkan suatu konsep/prinsip/prosedur.
16 Seminar Menganalisis/memecahkan masalah.
17 Simposium Menganalisis masalah.
18 Tutorial Menjelaskan/menerapkan/menganalisis konsep/prosedur/ prinsip.
19 Deduksi Menjelaskan/menerapkan/menganalisis konsep/prosedur/ prinsip.
20 Induksi Mensintesis suatu konsep, prinsip atau perilaku.
21 Computer Assisted Learning Menjelaskan/menerapkan/menganalisa/mensintesis/mengevaluasi sesuatu.

A. Metode Ceramah

Metode ceramah adalah penuturan bahan pelajaran secara lisan. Metode ini senantiasa bagus bila pengunaannya betul-betul disiapkan dengan baik, didukung alat dan media serta memperhatikan batas-batas kemungkinan penggunannya. Metode ceramah merupakan metode yang sampai saat ini sering digunakan oleh setiap guru atau instruktur. Hal ini selain disebabkan oleh beberapa pertimbangan tertentu, juga adanya faktor kebiasaan baik dari guru atau pun siswa. Guru biasanya belum merasa puas manakala dalam proses pengelolaan pembelajaran tidak melakukan ceramah. Demikian juga dengan siswa,mereka akan belajar manakala ada guru yang memberikan materi pelajaran melalui ceramah, sehingga ada guru yang berceramah berarti ada proses belajar dan tidak ada guru berarti tidak ada belajar. Metode ceramah merupakan cara yang digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran ekspositori.

B. Metode Demonstrasi

Demonstrasi merupakan metode yang sangat efektif, sebab membantu siswa untuk mencari jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta atau data yang benar. Metode demonstrasi merupakan metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekadar tiruan. Sebagai metode penyajian, demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Walaupun dalam proses demonstrasi peran siswa hanya sekadar memerhatikan, akan tetapi demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih konkret. Dalam strategi pembelajaran, demonstrasi dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan inkuiri.

C. Metode Diskusi

Metode diskusi adalah metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk memecahkan suatu permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan siswa, serta untuk membuat suatu keputusan (Killen, 1998). Karena itu, diskusi bukanlah debat yang bersifat mengadu argumentasi. Diskusi lebih bersifat bertukar pengalaman untuk menentukan keputusan tertentu secara bersama-sama. Selama ini banyak guru yang merasa keberatan untukmenggunakan metode diskusi dalam proses pembelajaran. Keberatan itu biasanya timbul dari asumsi: (1) diskusi merupakan metode yang sulit diprediksi hasilnya oleh karena interaksi antar siswa muncul secara spontan, sehingga hasil dan arah diskusi sulit ditentukan; (2) diskusi biasanya memerlukan waktu yang cukup panjang, padahal waktu pembelajaran di dalam kelas sangat terbatas, sehingga keterbatasan itu tidak mungkin dapat menghasilkan sesuatu secara tuntas. Sebenarnya hal ini tidak perlu dirisaukan oleh guru. Sebab,dengan perencanaan dan persiapan yang matang kejadian semacam itu bisa dihindari. Dilihat dari pengorganisasian materi pembelajaran, ada perbedaan yang sangat prinsip dibandingkan dengan metode sebelumnya, yaitu ceramah dan demonstrasi. Kalau metode ceramah dan demonstrasi materi pelajaran sudah diorganisir sedemikian rupa sehingga guru tinggal menyampaikannya, maka pada metode ini bahan atau materi pembelajaran tidak diorganisir sebelumnya serta tidak disajikan secara langsung kepada siswa, matari pembelajaran

ditemukan dan diorganisir oleh siswa sendiri, karena tujuan utama metode ini bukan hanya sekadar hasil belajar, tetapi yang lebih penting adalah proses belajar.

D. Metode Simulasi

Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya berpura-pura atau berbuat seakan-akan. Sebagai metode mengajar, simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu. Simulasi dapat digunakan sebagai metode mengajar dengan asumsi tidak semua proses  pembelajaran dapat dilakukan secara langsung pada objek yang sebenarnya. Gladi resik merupakan salah satu contoh simulasi, yakni memperagakan proses terjadinya suatu upacara tertentu sebagai latihan untuk upacara sebenarnya supaya tidak gagal dalam waktunya nanti. Demikian juga untuk mengembangkan pemahaman dan penghayatan terhadap suatu peristiwa, penggunaan simulasi akan sangat bermanfaat. Metode simulasi bertujuan untuk: (1) melatih keterampilan tertentu baik bersifat profesional maupun bagi kehidupan sehari-hari, (2) memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip, (3) melatih memecahkan masalah, (4) meningkatkan keaktifan belajar, (5) memberikan motivasi belajar kepada siswa, (6) melatih siswa untuk mengadakan kerjasama dalam situasi kelompok, (7) menumbuhkan daya kreatif siswa, dan (8) melatih siswa untuk mengembangkan sikap toleransi.

E. Metode Tugas dan Resitasi

Metode tugas dan resitasi tidak sama dengan pekerjaan rumah, tetapi lebih luas dari itu.

Tugas  resitasi bisa dilaksanakan di rumah, di sekolah, di perpustakaan dan tempat lainnya.

Jenis-jenis tugas sangat banyak tergantung pada tujuan yang akan dicapai, seperti tugas

meneliti, menyusun laporan, dan tugas di laboratorium.

F. Metode Tanya Jawab

Metode tanya jawab adalah metode mengajar yang memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat two way traffic sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dan siswa. Guru bertanya siswa menjawab atau siswa bertanya guru menjawab. Dalam komunikasi ini terlihat ada-nya hubungan timbal balik secara langsung antara guru.

Beberapa hal yang penting diperhatikan dalam metode tanya jawab ini antara lain:

1. Tujuan yang akan dicapai dari metode tanya jawab.

1) Untuk mengetahui sampai sejauh mana materi pelajaran yang telah

dikuasai oleh siswa.

2) Untuk merangsang siswa berfikir.

3) Memberi kesempatan pada siswa untuk mengajukan masalah yang

belum dipahami.

2. Jenis pertanyaan.

Pada dasarnya ada dua pertanyaan yang perlu diajukan, yakni pertanyaan ingatan dan

Pertanyaan pikiran:

1)      Pertanyaan ingatan, dimaksudkan untuk mengetahui sampai sejauh mana pengetahuan

sudah tertanam pada siswa. Biasanya pertanyaan berpangkal kepada apa, kapan, di mana, berapa, dan  yang sejenisnya.

2)      Pertanyaan pikiran, dimaksudkan untuk mengetahui sampai sejauh mana cara berpikir

anak dalam menanggapi suatu persoalan. Biasanya pertanyaan ini dimulai dengan kata mengapa,bagaimana.

G. Metode Kerja Kelompok

Metode kerja kelompok atau bekerja dalam situasi kelompok mengandung pengertian bahwa

siswa dalam satu kelas dipandang sebagai satu kesatuan (kelompok) tersendiri ataupun dibagi

atas kelompok-kelompok kecil (sub-sub kelompok). Kelompok bisa dibuat berdasarkan:

a. Perbedaan individual dalam kemampuan belajar, terutama bila kelas itu sifatnya heterogin

dalam belajar.

b. Perbedaan minat belajar, dibuat kelompok yang terdiri atas siswa yang punya minat yang

sama.

c. Pengelompokan berdasarkan jenis pekerjaan yang akan kita berikan.

dikelompokkan dalam satu kelompokan sehingga memudahkan koordinasi kerja.

e. Pengelompokan secara random atau dilotre, tidak melihat faktor-faktor lain.

f. Pengelompokan atas dasar jenis kelamin, ada kelompok pria dan kelompok wanita.

Sebaiknya kelompok menggambarkan yang heterogin, baik dari segi kemampuan belajar maupun kelompok yang baik dan ada kelompok yang kurang baik) . Kalau dilihat dari segi proses kerjanya maka kerja kelompok ada dua macam, yaitu kelompok jangka pendek dan kelompok jangka panjang.

H. Metode Problem Solving

Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode

mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat

menggunakan metode-metode lainnya dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik

kesimpulan.

I. Metode Sistem Regu (Team Teaching)

Team Teaching pada dasarnya ialah metode mengajar dua orang guru atau lebih bekerja sama mengajar sebuah kelompok siswa, jadi kelas dihadapi beberapa guru. Sistem regu banyak macamnya, sebab untuk satu regu tidak senantiasa guru secara formal saja, tetapi dapat melibatkan orang luar yang dianggap perlu sesuai dengan keahlian yang dibutuhkan.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan metode Team Teaching.

a. Harus ada program pelajaran yang disusun bersama oleh team tersebut, sehingga betul-betul

jelas dan terarah sesuai dengan tugas masing-masing dalam team tersebut.

b. Membagi tugas tiap topik kepada guru tersebut, sehingga masalah bimbingan pada siswa

terarah dengan baik.

c. Harus dicegah jangan sampai terjadi jam bebas akibat ketidak hadiran seseorang guru

anggota tim.

J. Metode Latihan (Drill)

Metode latihan pada umumnya digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan atau

keterampilan dari apa yang telah dipelajari. Mengingat latihan ini kurang mengembangkan

bakat/inisiatif siswa untuk berpiki, maka hendaknya guru/pengajar memperhatikan tingkat

kewajaran dari metode Drill.

1. Latihan, wajar digunakan untuk hal-hal yang bersifat motorik, seperti menulis, permainan,

pembuatan, dan lain-lain.

2. Untuk melatih kecakapan mental, misalnya perhitungan penggunaan rumus-rumus, dan lain-

lain.

3. Untuk melatih hubungan, tanggapan, seperti penggunaan bahasa, grafik, simbul peta, dan

lain- lain.

Prinsip dan petunjuk menggunakan metode Drill.

1. Siswa harus diberi pengertian yang mendalam sebelum diadakan latihan tertentu.

2. Latihan untuk pertama kalinya hendaknya bersifat diagnosis, mula-mula kurang berhasil,

Lalu diadakan perbaikan untuk kemudian bisa lebih sempurna.

3. Latihan tidak perlu lama asal sering dilaksanakan.

4. Harus disesuaikan dengan taraf kemampuan siswa.

5. Proseslatihan hendaknya mendahulukan hal-hal yang essensial dan berguna.

K. Metode Karyawisata (Field-Trip)

Karyawisata dalam arti metode mengajar mempunyai arti tersendiri, berbeda dengan karyawisata dalam arti umum. Karyawisata di sini berarti kunjungan ke luar kelas dalam rangka belajar. Contoh: Mengajak siswa ke gedung pengadilan untuk mengetahui sistem peradilan dan proses pengadilan, selama satu jam pelajaran. Jadi, karya wisata di atas tidak mengambil tempat yang jauh dari sekolah dan tidak memerlukan waktu yang lama. Karyawisata dalam waktu yang lama dan tempat yang jauh disebut study tour.

Langkah- langkah Pokok dalam Pelaksanaan Metode Karyawisata

1. Perencanaan Karyawisata

Fase ini adalah pelaksanaan kegiatan belajar di tempat karyawisata dengan bimbingan guru.

Kegiatan belajar ini harus diarahkan kepada tujuan yang telah ditetapkan pada fase

perencanaan di atas.

2. Tindak Lanjut

Pada akhir karyawisata siswa diminta laporannya baik lisan maupun tertulis, mengenai inti

masalah yang telah dipelajari pada waktu karyawisata.

L. Strategi Pembelajaran Ekspositori

1. Pengertian

Strategi pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada

proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan

maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Dalam strategi ini materi

pelajaran disampaikan langsung oleh guru. Siswa tidak dituntut untuk menemukan materi itu.

Materi pelajaran seakanakan sudah jadi. Karena strategi ekspositori lebih menekankan kepada

proses bertutur, maka sering juga dinamakan strategi ”chalk and talk”.

ANDRAGOGI

Pengertian

Andragogi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni Andra berarti orang dewasa dan agogos berarti memimpin. Perdefinisi andragogi kemudian dirumuskan sebagau “Suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar”. Kata andragogi pertama kali digunakan oleh Alexander Kapp pada tahun 1883 untuk menjelaskan dan merumuskan konsep-konsep dasar teori pendidikan Plato. Meskipun demikian, Kapp tetap membedakan antara pengertian “Social-pedagogy” yang menyiratkan arti pendidikan orang dewasa, dengan andragogi. Dalam rumusan Kapp, “Social-pedagogy” lebih merupakan proses pendidikan pemulihan (remedial) bagi orang dewasa yang cacat. Adapun andragogi, justru lebih merupakan proses pendidikan bagi seluruh orang dewasa, cacat atau tidak cacat secara berkelanjutan.

Andragogi dan Pedagogi

Malcolm Knowles menyatakan bahwa apa yang kita ketahui tentang belajar selama ini adalah merupakan kesimpulan dari berbagai kajian terhadap perilaku kanak-kanak dan binatang percobaan tertentu. Pada umumnya memang, apa yang kita ketahui kemudian tentang mengajar juga merupakan hasil kesimpulan dari pengalaman mengajar terhadap anak-anak. Sebagian besar teori belajar-mengajar, didasarkan pada perumusan konsep pendidikan sebagai suatu proses pengalihan kebudayaan. Atas dasar teori-teori dan asumsi itulah kemudian tercetus istilah “pedagogi” yang akar-akarnya berasal dari bahasa Yunani, paid berarti kanak-kanak dan agogos berarti memimpin. Kemudian Pedagogi mengandung arti memimpin anak-anak atau perdefinisi diartikan secara khusus sebagai “suatu ilmu dan seni mengajar kanak-kanak”. Akhirnya pedagogi kemudian didefinisikan secara umum sebagai “ilmu dan seni mengajar”.

Untuk memahami perbedaan antara pengertian pedagogi dengan pengertian andragogi yang telah dikemukakan, harus dilihat terlebih dahulu empat perbedaan mendasar, yaitu :

  1. Citra Diri

Citra diri seorang anak-anak adalah bahwa dirinya tergantung pada orang lain. Pada saat anak itu menjadi dewasa, ia menjadi kian sadar dan merasa bahwa ia dapat membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Perubahan dari citra ketergantungan kepada orang lain menjadi citra mandiri. Hal ini disebut sebagai pencapaian tingkat kematangan psikologis atau tahap masa dewasa. Dengan demikian, orang yang telah mencapai masa dewasa akan berkecil hati apabila diperlakukan sebagai anak-anak. Dalam masa dewasa ini, seseorang telah memiliki kemauan untuk mengarahkan diri sendiri untuk belajar. Dorongan hati untuk belajar terus berkembang dan seringkali justru berkembang sedemikian kuat untuk terus melanjutkan proses belajarnya tanpa batas. Implikasi dari keadaan tersebut adalah dalam hal hubungan antara guru dan murid. Pada proses andragogi, hubungan itu bersifat timbal balik dan saling membantu. Pada proses pedagogi, hubungan itu lebih ditentukan oleh guru dan bersifat mengarah.

  1. Pengalaman

Orang dewasa dalam hidupnya mempunyai banyak pengalaman yang sangat beraneka. Pada anak-anak, pengalaman itu justru hal yang baru sama sekali.Anak-anak memang mengalami banyak hal, namun belum berlangsung sedemikian sering. Dalam pendekatan proses andragogi, pengalaman orang dewasa justru dianggap sebagai sumber belajar yang sangat kaya. Dalam pendekatan proses pedagogi, pengalaman itu justru dialihkan dari pihak guru ke pihak murid. Sebagian besar proses belajar dalam pendekatan pedagogi, karena itu, dilaksanakan dengan cara-cara komunikasi satu arah, seperti ; ceramah, penguasaan kemampuan membaca dan sebagainya. Pada proses andragogi, cara-cara yang ditempuh lebih bersifat diskusi kelompok, simulasi, permainan peran dan lain-lain. Dalam proses seperti itu, maka semua pengalaman peserta didik dapat didayagunakan sebagai sumber belajar.

  1. Kesiapan Belajar

Perbedaan ketiga antara pedagogi dan andragogi adalah dalam hal pemilihan isi pelajaran. Dalam pendekatan pedagogi, gurulah yang memutuskan isi pelajaran dan bertanggung jawab terhadap proses pemilihannya, serta kapan waktu hal tersebut akan diajarkan. Dalam pendekatan andragogi, peserta didiklah yang memutuskan apa yang akan dipelajarinya berdasarkan kebutuhannya sendiri. Guru sebagai fasilitator.

  1. Nirwana Waktu dan Arah Belajar

Pendidikan seringkali dipandang sebagai upaya mempersiapkan anak didik untuk masa depan. Dalam pendekatan andragogi, belajar dipandang sebagai suatu proses pemecahan masalah ketimbang sebagai proses pemberian mata pelajaran tertentu. Karena itu, andragogi merupakan suatu proses penemuan dan pemecahan masalah nyata pada masa kini. Arah pencapaiannya adalah penemuan suatu situasi yang lebih baik, suatu tujuan yang sengaja diciptakan, suatu pengalaman pribadi, suatu pengalaman kolektif atau suatu kemungkinan pengembangan berdasarkan kenyataan yang ada saat ini. Untuk menemukan “dimana kita sekarang” dan “kemana kita akan pergi”, itulah pusat kegiatan dalam proses andragogi. Maka belajar dalam pendekatan andragogi adalah berarti “memecahkan masalah hari ini”, sedangkan pada pendekatan pedagogi, belajar itu justru merupakan proses pengumpulan informasi yang sedang dipelajari yang akan digunakan suatu waktu kelak.

Langkah-langkah Pelaksanaan Andragogi

Langkah-langkah kegiatan dan pengorganisasian program pendidikan yang menggunakan asas-asas pendekatan andragogi, selalu melibatkan tujuh proses sebagai berikut :

  1. Menciptakan iklim untuk belajar
  2. Menyusun suatu bentuk perencanaan kegiatan secara bersama dan saling membantu
  3. Menilai atau mengidentifikasikan minat, kebutuhan dan nilai-nilai
  4. Merumuskan tujuan belajar
  5. Merancang kegiatan belajar
  6. Melaksanakan kegiatan belajar
  7. Mengevaluasi hasil belajar (menilai kembali pemenuhan minat, kebutuhan dan pencapaian nilai-nilai.

Andragogi dapat disimpulkan sebagai :

  1. Cara untuk belajar secara langsung dari pengalaman
  2. Suatu proses pendidikan kembali yang dapat mengurangi konflik-konflik sosial, melalui kegiatan-kegiatan antar pribadi dalam kelompok belajar itu
  3. Suatu proses belajar yang diarahkan sendiri, dimana kira secara terus menerus dapat menilai kembali kebutuhan belajar yang timbul dari tuntutan situasi yang selalu berubah.

Prinsip-prinsip Belajar untuk Orang Dewasa

  1. Orang dewasa belajar dengan baik apabila dia secara penuh ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan
  2. Orang dewasa belajar dengan baik apabila menyangkut mana yang menarik bagi dia dan ada kaitan dengan kehidupannya sehari-hari.
  3. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila apa yang ia pelajari bermanfaat dan praktis
  4. Dorongan semangat dan pengulangan yang terus menerus akan membantu seseorang belajar lebih baik
  5. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila ia mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan secara penuh pengetahuannya, kemampuannya dan keterampilannya dalam waktu yang cukup
  6. Proses belajar dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman lalu dan daya pikir dari warga belajar
  7. Saling pengertian yang baik dan sesuai dengan ciri-ciri utama dari orang dewasa membantu pencapaian tujuan dalam belajar.

Karakteristik Warga Belajar Dewasa

  1. Orang dewasa mempunyai pengalaman-pengalaman yang berbeda-beda
  2. Orang dewasa yang miskin mempunyai tendensi, merasa bahwa dia tidak dapat menentukan kehidupannya sendiri.
  3. Orang dewasa lebih suka menerima saran-saran dari pada digurui
  4. Orang dewasa lebih memberi perhatian pada hal-hal yang menarik bagi dia dan menjadi kebutuhannya
  5. Orang dewasa lebih suka dihargai dari pada diberi hukuman atau disalahkan
  6. Orang dewasa yang pernah mengalami putus sekolah, mempunyai kecendrungan untuk menilai lebih rendah kemampuan belajarnya
  7. Apa yang biasa dilakukan orang dewasa, menunjukkan tahap pemahamannya
  8. Orang dewasa secara sengaja mengulang hal yang sama
  9. Orang dewasa suka diperlakukan dengan kesungguhan iktikad yang baik, adil dan masuk akal
  10. Orang dewasa sudah belajar sejak kecil tentang cara mengatur hidupnya. Oleh karena itu ia lebih suka melakukan sendiri sebanyak mungkin
  11. Orang dewasa menyenangi hal-hal yang praktis
  12. Orang dewasa membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat akrab dan menjalon hubungan dekat dengan teman baru.

Karakteristik Pengajar Orang Dewasa

Seorang pengajar orang dewasa haruslah memenuhi persyaratan berikut :

1. Menjadi anggota dari kelompok yang diajar 2. Mampu menciptakan iklim untuk belajar mengajar 3. Mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi, rasa pengabdian dan idealisme untuk kerjanya 4. Menirukan/mempelajari kemampuan orang lain 5. Menyadari kelemahannya, tingkat keterbukaannya, kekuatannya dan tahu bahwa di antara kekuatan yang dimiliki dapat menjadi kelemahan pada situasi tertentu. 6. Dapat melihat permasalahan dan menentukan pemecahannya 7. Peka dan mengerti perasaan orang lain, lewat pengamatan 8. Mengetahui bagaimana meyakinkan dan memperlakukan orang 9. Selalu optimis dan mempunyai iktikad baik terhadap orang 10. Menyadari bahwa “perannya bukan mengajar, tetapi menciptakan iklim untuk belajar” 11. Menyadari bahwa segala sesuatu mempunyai segi negatif dan positif.

BUBUR KENTANG BROKOLI untuk Makanan bayi 9 – 12 bulan

Bahan :
Kentang, brokoli, daging, tomat, tahu sutera, keju

Cara membuat :
Kentang diparut kasar, daging ayam/sapi giling, brokoli & tomat buang kulit dipotong kecil2, tahu potong dadu. Masak semua bahan diatas dengan kuah kaldu ayam/daging sampai matang. Tuang ke mangkok bayi, taburin sedikit keju parut diatasnya

PUREE  ALPUKAT

Nutrisi Utama: Serat, Vitamin E
Bahan:
1 buah alpukat matang
ASI/susu formula dicampurkan air matang secukupnya

Cara Membuat:

Buang biji alpukat, lalu haluskan daging buahnya.

Campurkan dengan ASI atau susu formula dengan kekentalan yang diinginkan.

Saran Penyajian: Berikan puree alpukat sebagai makanan tunggal atau campur dengan puree sayur/buah lainnya.

Variasi: Buah alpukat dikeruk halus dan langsung sajikan

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!